Pernah nggak sih berada di satu titik waktu di mana kamu merasa nggak punya apa-apa, masa depan kelihatan gelap, tapi di dalam dada cuma ada satu hal yang bikin kamu tetap melangkah, tekad bulat untuk membuat orang tua bangga?
Itulah yang dirasakan Sarianta Sinuhaji. Cerita hidupnya bukan cuma soal cari makan atau naik jabatan, tapi tentang keringat, pengujian mental, serta bagaimana sebuah telepon malam-malam mengubah jalan hidupnya.
Panggilan Telepon Malam Hari dan “Titik Nol” di Pekanbaru
Semua berawal waktu cabang baru Metro Medan resmi dibuka. Di depan para pimpinan waktu itu, Sari berdiri dengan dada bidang. Tanpa banyak mikir panjang, dia cuma bilang satu kalimat yang jadi pijakan awalnya: “Tempatkan ke mana saja, saya siap, Pak.”
Belum sempat badannya berasa reda dari lelah setelah sampai di kosan, ponselnya berdering. Suara di seberang sana ngasih tawaran sekaligus ujian: “Kalau kamu niat kerja, malam ini siap nggak berangkat ke Pekanbaru buat training?”
Jujur aja, waktu itu Sari bahkan nggak tahu persis Pekanbaru itu di sebelah mana. Tapi hatinya bergemuruh. Yang dia tahu cuma satu, tekat untuk ngebahagiain orang tuanya, pengen ngebuktiin kalau didikan mereka selama ini nggak pernah salah. Tanpa ragu, ia jawab, “Siap, Pak!”
Malam itu juga, bareng seorang supervisor dan sunbeng, dia berangkat menuju “titik nol” perjalanannya. Di Pekanbaru, dia ditraining untuk menjadi ADM AR oleh Bu Fatmi. Cuma tiga hari di sana, tapi itu jadi fondasi awal dia balik ke Medan, sampai pada akhirnya dipercaya jadi kasir.
Pesan Ayah: Jangan Hitung-Hitungan dalam Hidup
Menjadi kasir ternyata nggak gampang. Waktu dan tenaga terkuras habis di meja kerja. Godaan buat ngeluh, ngerasa cukup, atau buru-buru pulang pasti ada. Tapi di sela-sela rasa capek itu, dia selalu ingat pesan almarhum bapaknya dulu:
“Nanti kalau kamu kerja, jangan pernah hitung-hitungan. Kalau masih mampu dikerjakan, kerjakan saja. Nanti semua kebaikan itu pasti bakal balik ke kamu.”
Pesan itu dipegang erat banget. Makanya, pas temen-temennya udah pada beres dan pulang, Sarianta malah mangkir lebih lama. Dia belajar akuntansi sendiri sampai jam 11 malam. Waktu mentok di bagian CA (Chief Accounting) dan nggak ada yang mau ngajarin blak-blakan, dia datengin atasannya langsung. Dari situlah dia dapat petuah yang ngena banget ke ulu hati: “Wajar orang kaya atau orang pintar itu sombong, karena mereka punya sesuatu yang dibanggain. Kalau kamu mau pintar, ya kamu sendiri yang harus belajar, jangan nunggu disuapi.”
Kerja keras tanpa hitung-hitungan itu nggak sia-sia. Tahun 2010, dia resmi diangkat jadi Chief Accounting.
Badai Datang, Mental pun Diuji di Bawah Tekanan
Tapi hidup kan nggak selalu lurus-lurus aja. Tahun 2022, ujian berat datang pas ada pergantian pimpinan. Direktur Operasional di Metro Balige diganti sama Ibu Alsopinawati.
Selama bertahun-tahun, Sari ngerasa nyaman karena berpikir udah rajin serta bekerja dengan baik . Tapi di bawah kepemimpinan yang tegas itu, mentalnya benar-benar diuji sampai di titik paling bawah. Berat banget. Sampai-sampai dia sempat kepikiran buat resign karena nggak terbiasa ditekan dan dikritik.
Di saat mau nyerah itulah, dia merenung dalam-dalam. Dia ingat lagi doanya yang paling jujur: “Tuhan, jangan panggil dulu orang tuaku sebelum aku berhasil bikin mereka bangga.”
Dari situ dia sadar. Teguran keras itu bukan buat ngejatuhin, tapi lagi nempa mentalnya yang ternyata masih rapuh. Dia sadar dia nggak boleh mundur. Dia keluar dari zona nyamannya, nerima semua didikan keras itu dengan lapang dada, dan bangkit jadi pribadi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Buah Manis Kesabaran: Menjadi Manager Operasional Metro Sidikalang
Dan ternyata, capek, air mata, lemburan malam, serta tempaan mental yang sempat bikin sesak dada itu nggak pernah bohongi hasil.
Perjalanan panjang dari seorang anak muda yang nekat berangkat ke Pekanbaru tanpa tahu arah itu berbuah manis. Hari ini, Sarianta Sinuhaji dipercaya mengemban amanah besar sebagai Manager Operasional Metro Sidikalang.
Jabatan itu bukan sekedar titel di kantor. Itu adalah bukti nyata dari sumpahnya dulu, bahwa pengorbanan orang tua tidak pernah sia-sia, bahwa kerja keras yang tulus selalu menemukan jalannya, dan bahwa mental baja
Kesuksesan sejati nggak bakal pernah datang ke orang yang kerjanya setengah-setengah atau pelit tenaga. Hidup pasti bakal bayar lunas setiap tetes keringat orang-orang yang berani bangkit dari titik nol.





